Elzatta Berjuang dan Bergerak Maju Hadapi Tantangan Pandemi
By ketupatkartini - Feb 26, 2021Ibu Elidawati Ali Oemar menceritakan secara menyeluruh bagaimana kondisi dan perjuangan Elzatta di masa pandemi. Inspiratif!
Bagaimana 'nasib' dan situasi industri fashion Indonesia selama pandemi? Secara umum, kita tentu bisa melihat gejolak yang sangat nyata ini; penurunan daya beli masyarakat, toko-toko yang sepi dan tutup, banting harga di mana-mana, shifting atau pergeseran konsep usaha, dan lain sebagainya yang bisa menyimpulkan, bahwa pandemi ini benar-benar memukul sektor fashion dan masih terasa hingga saat ini. Tidak semua mengalami hal yang sama, tentu saja.
Lebih dari gambaran umum tersebut, kita ingin mengetahui lebih dekat, bagaimana sebenarnya kondisi ini berakibat pada proses bisnis sebuah brand fashion Indonesia, dengan skala yang cukup besar dan jaringan mencakup seluruh Indonesia. Ibu Elidawati Ali Oemar, founder dan CEO Elzatta (Elcorps) menceritakan apa yang dialami dan dilakukan oleh jenama yang menjadi salah satu pionir busana muslim di Indonesia ini.
Dengan kekuatan pada produk hijab, gamis dan keragaman printing-nya serta garis yang feminin dan fitting yang nyaman, Elzatta menjadi salah satu brand yang akrab bagi para muslimah. Dilengkapi dengan koleksi fashion anak, Elzatta telah menjadi pilihan keluarga Muslim Indonesia sejak tahun 2012.
Seperti perusahaan lain di bidang fashion, Elzatta sangat merasakan pukulan akibat pandemi ini. Hampir semua usaha pasti merasakan, tercermin dari ekonomi Indonesia yang mengalami penurunan. Ibu El -panggilan beliau- mengungkapkan, pandemi datang saat Elzatta akan menyambut panen raya -bulan Ramadhan dan Lebaran-, lazimnya masa panen bagi usaha fashion, apalagi dengan jaringan seluas Elzatta. "Kami sedang mempersiapkan rangkaian koleksi sebagus mungkin, dengan rangkaian aktivitas yang biasanya dilakukan. Karena pandemi, semuanya dibatalkan, semua prediksi dan target meleset".
Pendapatan secara drastis merosot, yang membuat perusahaan harus melakukan banyak penyesuaian dengan cepat, termasuk me-layoff sebagian karyawan. Tetapi banyak yang harus diperjuangkan, “brand Elzatta menjadi tumpuan penghidupan banyak orang, dari mitra, agen, reseller, begitu juga para supplier kami. Meskipun begitu berat terasa, kami harus terus putar otak agar brand ini bisa terus menjadi harapan bagi banyak orang. Kami pikir kami tidak bisa diam saja menunggu pandemi usai, kami akhirnya memutuskan terus meluaskan usaha,” tuturnya lagi.
Dalam situasi seperti itu, banyak yang merasa cemas, bahkan ketakutan untuk bergerak. Satu-satunya cara untuk menjaga agar semangat tetap hidup, harus melakukan sesuatu untuk tetap bergerak. Elzatta melakukan terobosan-terobosan, dan aktivasi yang melibatkan masyarakat. Salah satunya adalah mengajak dan menarik konsumen untuk datang langsung belanja ke toko-toko. Pada bulan September, kemudian dilanjutkan ke November hingga Desember, Elzatta menggelar program 'Funtasticsale', Beli 5 Bayar 2, untuk berbelanja langsung ke toko-toko Elzatta.
Lebih dari program diskon biasa, untuk gelaran ini Elzatta harus mempersiapkan semua sarananya, untuk benar-benar mematuhi protokol kesehatan, karena dilakukan secara fisikal. "Program ini memang benar-benar mengajak masyarakat untuk datang langsung ke toko, supaya mereka tetap bergerak, melihat, mencoba, dan merasakan kegairahan berbelanja fashion. Tidak hanya membuat konsumen datang, tetapi interaksi apa yang berlangsung pada program ini membuat tim dan mitra di toko-toko Elzatta juga bersemangat. Ini membangun semangat baru, saya juga datang ke store di daerah-daerah, bertemu mitra-mitra untuk mengajak berpartisipasti dalam Funtasticsale."
"Awalnya memang minus (merugi, dengan potongan harga sebesar itu) sementara, tetapi mampu membangun semangat optimisme untuk bergerak lagi ke depan, itu yang penting. Masyarakat pun melihat optimisme ini, bahwa Elzatta masih bersama mereka untuk bergerak maju", terangnya.
Setelah program ini selesai, strategi untuk mendatangkan konsumen ke toko juga tetap diteruskan. "Kita memperlakukan konsumen lebih spesial, menyambut konsumen yang datang ke toko dengan lebih baik. Toko-toko Elzatta diperbarui untuk membuat konsumen lebih nyaman. Ini bagian dari strategi meningkatkan engagement dengan konsumen/publik."
Keputusan Elzatta untuk tetap melangsungkan beberapa program secara offline, ini menjadi kunci. Konsekuensinya, protokol kesehatan dijalankan secara ketat dan hati-hati. Acara banyak dilakukan di tempat terbuka, seperti di halaman toko-toko Elzatta. Dengan bertemu (mitra, agen, reseller) secara fisik, semua bisa lebih mudah tersampaikan.
Peran Baru Menggerakkan Ekonomi
Setelah selama pandemi ini Elzatta fokus menata internal, bersama karyawan, mitra, agen dan reseller, pada awal bulan Februari ini Elzatta berkesempatan untuk menjalin komunikasi dengan beberapa pemerintah daerah, terkait dampak pandemi secara ekonomi ke masyarakat. Kerjasama ini menghasilkan program untuk memfasilitasi masyarakat yang terdampak secara ekonomi. Elzatta menyiapkan konsep reseller yang lebih luas, memberi kesempatan untuk semua orang maupun pemilik umkm yang terdampak pandemi, menjadi reseller Elzatta tanpa modal.
Terlebih, dalam waktu dekat kita akan memasuki bulan Ramadhan, sehingga menjadi momen tepat untuk melakukan perputaran uang lebih banyak. "Sesungguhnya sesulit apapun kondisi ini, pasti ada yang masih baik-baik saja, ada yang masih memiliki keluangan untuk berbelanja. Kami juga menghimbau masyarakat yang masih berkecukupan untuk berbelanja. Berpindahnya uang dari tabungan ke pihak lain, itu sekecil-kecilnya peran kita untuk memperbaiki dan menolong perekonomian masyarakat secara luas", lanjutnya.
Efisiensi dan Ekspansi Toko
Elzatta percaya bahwa market/pasar (busana muslim) itu tetap ada, tidak ke mana-mana. Ramadhan dan lebaran masih tetap berlangsung, dengan dinamikanya. Demikian pula jaringan toko yang dinaungi oleh Elzatta, dinamika itu terjadi. Ada beberapa toko yang tidak dapat dipertahankan (beberapa justru di kota-kota besar) dan harus ditutup, seiring dengan membuka toko baru maupun re-opening toko di area yang memang potensial.
Tanggal 14 Februari lalu, Elzatta membuka Galeri Elzatta di Medan. Pembukaan ini akan diikuti oleh re-opening toko-toko Elzatta di kota lain termasuk di Bandung dan Purbalingga. Ibu El menegaskan, "kita selalu katakan, beradaptasi. Ini salah satu praktiknya, menutup toko yang memang tidak berjalan (secara penjualan), menyesuaikan dengan skala efektivitas dan efisiensi yang lebih baik. Selain itu, bagaimana membuat koleksi baru dengan hati-hati, sehingga tidak membuat bengkaknya inventori."
Adaptasi, resiliensi, sebuah rumus yang sudah jamak diketahui oleh para pebisnis yang memutuskan untuk terjun di industri ini. Tetapi langkah-langkah dan strategi yang yang benar-benar dilakukan dan dieksekusi, yang menjadi pembakar semangat dan harapan banyak orang yang terlibat, bisa jadi menjadi pembeda antara yang bisa bertahan dan tergilas di tengah pandemi ini.
See also:
--
NTB Mempromosikan Industri Fashion Muslim --
Menentukan Personal Style, Seperti Apa? --
Your Daily Dose of Quirkyness, The Comic Series by Eugeneffectes --
Bokitta: Pin-less Wrapped Hijabs for Modern Muslim Women --