Strategi Desainer Hadapi Pandemi

Strategi Desainer Hadapi Pandemi

Sejak awal Maret 2020, sudah genap 4 bulan kita mengalami disrupsi total dan signifikan di semua bidang. Disrupsi akibat pandemi di sektor industri dan penjualan ritel produk-produk fashion, terutama menyebabkan berkurangnya permintaan, penjualan yang anjlok hingga operasional bisnis yang tiba-tiba berhenti. Situasi yang berubah sedemikian cepat, awalnya tidak sempat diantisipasi oleh semua pelaku usaha. Banyak dari kita merespon situasi ini dengan rasa ketakutan, khawatir hingga panik. Namun, waktu tetap memberi kesempatan kita semua untuk berproses, mendapatkan input dari situasi yang terjadi dan memaksa untuk melakukan adaptasi. Siklus yang terjadi pada saat ini, adalah acceptance (penerimaan) dan adaptasi dengan kenormalan baru. Meskipun tentu saja kecepatan adaptasi ini akan berbeda-beda.

Shifting atau melakukan peralihan/pergeseran strategi, menjadi sebuah kewajaran dan keharusan bagi hampir semua pelaku bisnis di masa ini, dalam rangka mempertahankan kelanjutan bisnis bahkan menemukan ceruk atau peluang baru. Rata-rata pelaku bisnis beralih menjual produk yang benar-benar menjadi kebutuhan masyarakat saat ini. Di bidang fashion, para desainer dan pemilik brand yang memiliki kapasitas dalam membuat produk sandang, segera mendesain dan memproduksi masker yang kini menjadi kebutuhan wajib. Banyak pula yang mengalihkan produksi lini utamanya menjadi loungewear atau baju rumah.

Lima desainer Indonesian Fashion Chamber menceritakan bagaimana mereka menghadapi 'tantangan' pandemi ini, dan berpacu dengan waktu untuk tetap berkreasi sambil menerapkan strategi dan cara-cara baru dalam memasarkan produknya. Rosie Rahmadi yang memiliki brand Gadiza, di awal-awal pandemi terjadi sempat dibuat bingung dengan langkah-langkah yang harus dilakukannya. Masa-masa tersebut, ia merasa beruntung dengan adanya komunitas desainer dan bisnis yang diikutinya. "Komunitas bagaikan imunitas, karena kita bersama-sama dengan member (komunitas) yang lain menghadapi ini, sehingga bisa sama-sama berbagi dan berkonsultasi", jelasnya.

Rosie Rahmadi

Salah satu prinsip bisnis dari mentornya yang sangat ia jaga, yaitu brand tidak boleh hilang dari benak konsumen. Jadi, meskipun saat sepi atau bahkan penjualan naik turun, kita konsisten untuk mengadakan interaksi dengan konsumen di sosial media, live shopping, dan sebagainya. Dari konsultasi bersama para desainer senior itu pula akhirnya Gadiza kini memiliki produk unggulan yang 'dibranding' sebagai Outer Pelindung Diri (OPD), jaket panjang yang sebenarnya merupakan produk yang telah lama dirilis Gadiza, namun kini diperbarui dari sisi material dan strukturnya untuk menjawab tantangan dan kebutuhan saat beraktivitas di luar rumah. OPD Gadiza kini menjadi best selling items dan selalu sold out setiap kali rilis. Rosie dan tim kini harus bekerja keras untuk memenuhi permintaan konsumen yang membludak. 

Khairul Fajri Yahya seorang desainer yang berdomisili di Aceh, menceritakan bagaimana pada awal-awal minggu pertama diberlakukan lockdown di Aceh, ia mengalami penurunan omset signifikan. Khairul memiliki brand Ija Kroeng, dengan produk utamanya sarung modern untuk pria. Pada waktu tersebut, tidak ada penjualan sama sekali, hingga tidak ada pemasukan. Dengan penjahit yang masih ada, ia langsung beralih membuat masker kain yang relatif mudah dan cepat untuk dikerjakan. Ketika itu masih sulit sekali untuk mendapatkan masker kain di pasaran. Ia langsung menawarkan masker kain yang bisa dikustomisasi, kepada instansi-instansi di Aceh, dan mendapat sambutan yang luar biasa. Momentum ini dimanfaatkannya untuk memperkenalkan dan memperkuat branding Ija Kroeng, sehingga semakin banyak orang mengenal merek fashion asli Aceh ini. 

  

Khairul Fajri   -   Produk dari Konsep by Phillip

Masker kain rupanya menjadi 'penyelamat' banyak brand dan pelaku usaha fashion. Dengan kreatifitas dan karakter brand yang telah kuat, para desainer ini membuat masker kain yang sesuai dengan karakter brand, stylish dan tentu saja sangat dibutuhkan. Masker kain Hannie Hananto menjadi salah satu yang sangat populer, dengan desain ilustrasi yang pernah diangkat dalam koleksi-koleksi sebelumnya. Komponen ilustrasi yang di cetak menjadi masker kain ini menjadi selling factor yang sangat kuat dan menjadikannya item ikonis di masa pandemi ini. Hannie Hananto kini kebanjiran order masker, yang sebagian dikerjakan oleh penjahit yang berada di luar kota. 

Hannie juga melihat perubahan perilaku dalam berbelanja online saat ini. Interaksi di platform video menjadi sangat penting, ia banyak mengunggah video pendek untuk mempromosikan produk ready-to-wear di IG Story maupun TikTok, dengan cara yang lebih populer dan kekinian. 

Selain beralih sementara dengan memproduksi masker, ada pendekatan lebih penting yang harus dilakukan. Bagi Phillip Iswardono, sejak awal kondisi seperti ini ia percaya tetap akan memberikan efek positif baginya dan bagi usaha fashion yang dijalaninya. Phillip dengan labelnya Konsep by Phillip memang fokus pada skala usaha kecil, membuat produk ready-to-wear berbasis lurik dengan pengrajin dari Klaten dan Jogja. Kliennya mayoritas berada di Jakarta. Ketika pada akhir Maret tidak ada order sama sekali, ia mulai membangun kembali networking, menjalin komunikasi berdasarkan database klien. Hanya bertukar kabar, dan mengirimkan bingkisan masker kepada beberapa klien dan relasi. Minggu selanjutnya, beberapa klien mulai menanyakan koleksi dan penjualan pun berjalan kembali. Yang mengejutkan, ia mendapat order lebih dari 1200 pcs masker motif batik peranakan, dari Singapura. 


Masker Hannie Hananto


masker Rengganis

Begitu pula Riri Rengganis, yang mulai mengatur kembali strategi brand-nya. Riri yang memiliki label Indische dan Rengganis, menyadari sepenuhnya bahwa sukses atau tidaknya melewati tantangan pandemi ini, sangat tergantung kondisi masing-masing brand. Tidak semua bisa survive karena memang ada faktor-faktor yang tidak dimiliki.

Kondisi bisnisnya, dari bulan Februari sudah ada penurunan omset, dan labelnya sangat terpengaruh dengan sepi hingga tutupnya mal, karena sebagian produk siap pakainya dijual di mal. Puncak terburuk pada bulan April, yang turun hingga 80%. "Saya langsung hentikan produksi. Padahal, stok toko sudah banyak karena persiapan lebaran. Strategi pertama yang sepertinya semua orang lakukan, adalah melakukan penawaran kepada konsumen secara langsung (whatsapp) melalui admin. Ternyata ini justru tidak tepat, karena tidak ada unsur empati pada kondisi konsumen yang mungkin banyak yang memang menahan pengeluarannya."

"Saya melakukan evaluasi. Produk kebaya dari Indische sudah jelas tidak relevan, selain harganya mahal, juga tidak dibutuhkan. Saya mencoba bikin menu baru khusus di website, kain-kain yang  hampir semuanya titipan pengrajin, saya foto dengan bagus dan keterangan yang mendetil pula. Tujuan saya bukan hanya untuk menjualkan kain itu, saya tawarkan jasa jahit tanpa potong. Sehingga kain tetap utuh, tetapi sudah bisa langsung dipakai. Responnya sangat bagus, dan semua kain itu laku."

Kini Riri juga kewalahan untuk melayani permintaan masker yang diproduksinya. Masker dari Rengganis sangat unik, dengan warna-warni dan bordir yang menarik. Hingga sekarang, sudah lebih dari 2000 pcs masker yang dijualnya.


See also:
-- Strategi Desainer Hadapi Pandemi -- Melirik Laku Wajik Tenun Kediri -- Komposisi Baru Denim untuk Hijabers -- JFW 2017; ​New York Inspired Collection, Hannie Hananto for NYS.co --

Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Up2date Kini; Satu Dasawarsa Penuh Makna

Up2date Kini; Satu Dasawarsa Penuh Makna

2016 menjadi tahun signifikan bagi Up2date, -as a brand and as a company- sebagai milestone satu dasawarsa perjalanannya. Bagaimana Up2date kini?

READ MORE
Mengapa Zara disukai konsumen hijabers

Mengapa Zara disukai konsumen hijabers

READ MORE